Sejarah perkembangan bangsa Indonesia sejak tahun 1945 hingga sekarang, mendapat lika-liku permasalahan yang dihadapi. Ketika usia Republik ini masih berusia 5 tahun, terdapat permasalahan-permasalahan yang dihadapi; diantaranya, invasi yang dilakukan Belanda di kota-kota besar seperti Yogyakarta; konferensi-konferensi yang dihianati oleh Belanda; Pemberontakan Madiun 1948; Pemberontakan RMS; dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, bagaimana Bung Karno menyelesaikan konflik-konflik yang timbul pasca Proklamasi Kemerdekaan? Apakah Soekarno menggunakan Pancasila atau nilai Islam?

Ada suatu momen dimana Bung Karno memberikan pidato peringatan proklamasi kemerdekaan tahun 1950, dengan mengedepankan nilai-nilai kesatuan Republik Indonesia, yang diambil dari Pancasila. Bung Karno berkata, “Rapatkanlah barisan, peganglah tangan satu sama lain, gemblenglah kembali persatuan nasional, kobarkanlah semangat kerjasama antara kita dengan kita, luaskanlah hati, bukalah hati untuk mudah menghargai satu sama lain.” (Soekarno, DBR Jilid II)

Pidato Bung Karno diatas mengarah pada nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Namun pada kesempatan lain, Bung Karno mengedepankan nilai-nilai Islam ketika berpidato pada peringatan proklamasi kemerdekaan tahun 1951. Bung Karno berkata, “jikalau dihari kemudian nanti anak-anak di kampung-kampung dan di desa-desa berkata: Bung Karno selalu meniupkan terompet tentang Irian Barat atas nama rakyat dengan sehebat-hebatnya, maka saya, atau arwah saya akan berkata: Ya Allah Ya Tuhan, segala hal datang daripadaMu!” (Soekarno, DBR Jilid II)

Lantas, apakah kita temukan pertentangan antara Islam dan Pancasila pada kedua hal di atas? Tentu tidak. Sosok Bung Karno yang nasionalis, ketika ia dipuji tentang keberhasilannya merebut Irian Barat, ia justru merendah dan mengatakan semua itu kehendak Allah SWT.

Namun dimasa sekarang, sering kali kita jumpai beberapa orang yang berusaha mempertentangkan Islam dan Pancasila secara prinsip. Ada yang mengatakan bahwa Pancasila adalah banteng dari faham Komunisme (Republika.co.id). Padahal, Islam dan Pancasila dapat hidup berdampingan sebagai nilai dasar dalam menentukan arah gerak perjuangan bangsa Indonesia sejak tahun 1945 hingga sekarang.

Jika dianalogikan, Islam dan Pancasila bagaikan sebuah pohon. Islam merupakan akar, dan Pancasila merupakan bagian lain dari pohon yang nampak di atas tanah. Yang artinya, simpan Islam dalam lubuk hatimu yang paling dalam. Ketika hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, outputnya adalah Pancasila.

Ini merupakan posisi strategis dari kedua nilai ini jika dipadukan. Karena secara prinsip, Pancasila dapat diterima oleh suku, ras dan agama yang ada di Indonesia. Sedangkan Islam justru secara prinsip akan ditolak oleh agama lain.

Dari sini dapat diambil kesimpulan. Bahwa penempatan dari kedua nilai ini harus bijaksana. Tidak memaksakan dan tidak mempertentangkan. Wallahu a’lam bishawab.

Dawuhan, 11 Juni 2020

Murtafian Naja

Leave a Comment