Talqin secara bahasa berarti mengajar atau memahamkan secara lisan. Sedangkan secara istilah, talqin adalah mengajar dan mengingatkan kembali kepada mayit (orang meninggal dunia) yang baru saja dikubur dengan kalimat-kalimat tertentu. Mentalqin mayit merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang sudah dilakukan secara turun temurun. Lalu, bagaimanakah hukum mentalqin mayit?

Berikut merupakan hukum talqin mayit menurut Imam Mazhab :

1. Mazhab Al-Hanaf Mengharuskan Talqin

Berkata As-Syeikh Al-Alim Abdul Al-Ghani Al-Ghanimi Ad-Dimasyqi Al-Hanaf dalam kitab beliau berjudul Al-Lubab Fi Syarhil Kitab pada jilid 1 hal. 125 menyatakan :
Manakala hukum mentalqin mayat pada kubur adalah merupakan syariat islam disisi Ahli Sunnah Wal Jamaah kerana Allah ta’ala menghidupkannya dalam kuburnya”.

2. Mazhab Maliki Mengharuskan Amalan Talqin
Imam Al-Qurtubi Al-Maliki pengarang kitab tafsir terkenal telah menulis satu bab yang khusus mengenai amalan talqin dalam mazhhab Maliki dalam kitab beliau berjudul At-Tazkirah Bil Ahwal Al-Mauta Wal Akhirah pada hal. 138-139 :
Di dalam bab itu juga Imam Qurtubi telah menjelaskan amalan talqin dilakukan oleh para ulama islam di Qurtubah dan mereka mengharuskannya.

3. Mazhab Syaf’ie Mengharuskan Dan Mengalakkan Amalan Talqin
Imam An-Nawawi As-Syaf’i menyatakan dalam kitab beliau berjudul Al-Majmuk pada jilid 5 hal. 303-304 :

Telah menyatakan oleh ramai para ulama dari mazhab Syaf’i bahwa disunatkan talqin pada mayat ketika mengebumikannya”.

Kenyataan mazhab Syaf’i dari kitab yang sama :

Imam Nawawi menyatakan : “ Telah ditanya kepada As-Syeikh Abu Amru Bin As-Shalah mengenai talqin maka beliau menjawab Amalan talqin merupakan pilihan kita (mazhhab Syaf’i) dan kami beramal dengannya”.

Imam Abu Qosim Ar-Rof’i As-Syaf’i menyatakan dalam kitab beliau berjudul Fathul ‘Aziz Bi syarh Al-Wajiz tertera juga pada bawah kita Al-Majmuk oleh Imam Nawawi pada jilid 5 hal. 242 :

Digalakkan dan disunatkan mentalqin mayat selepas mengebumikannya dan dibaca : Wahai hamba Allah bin hamba Allah…(bacaan talqin).

4. Mazhab Hambali Mengharuskan Talqin
Imam Mansur Bin Yusuf Al-Buhuti Al-Hambali menyatakan hukum pengharusan talqin dalam kitab beliau berjudul Ar-Raudul Mari’ hal. 104.

Imam Al-Mardawy Al-Hambaly dalam kitabnya Al-Insof Fi Ma’rifatil Rojih Minal Khilaf pada jilid 2 hal. 548-549 menyatakan :

Kenyataan yang penting : Disunatkan hukum talqin mayat selepas mengkebumikannya disisi kebanyakan ulama ( selainnya hanya mengaruskan sahaja).

Dalil tentang disunatkannya mentalqin kepada seseorang yang sedang naza’ adalah hadits Nabi SAW. seperti yang ditulis oleh sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin juz II hal. 138 :

Disunatkan mentalqin orang yang akan meninggal walaupun masih mumayyiz menurut pendapat yang kuat dengan kalimat syahadat, karena ada hadits Nabi riwayat Imam Muslim “talqinlah orang Islam di antara kamu yang akan meninggal dunia dengan kalimah La Ilaha Illallah” dan hadits shahih “Barang siapa yang paling akhir pembicaraannya itu La Ilaha Illallah, maka dia masuk surga”, yakni bersama orang-orang yang beruntung”.

Sedangkan dalil disunatkannya talqin mayit yang baru dikubur adalah : Firman Allah, seperti keterangan dalam kitab I’anatut Thalibin juz II hal. 140

Disunatkan mentalqin mayit yang sudah dewasa walaupun mati syahid setelah sempurna penguburannya. Hal yang demikian ini karena frman Allah : “dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Ad-Dzariyat : 55).

Hadits riwayat Thabrani :

Apabila salah seorang di antara saudaramu telah meninggal dan penguburannya telah kamu sempurnakan (ditutup dengan tanah), maka berdirilah salah seorang di penghujung kuburnya, dan berkatalah : “hai fulan bin fulanah” maka dia bisa mendengarnya. Kemudian berkatalah “hai fulan bin fulanah” maka dia duduk dengan tegak. Berkatalah lagi “hai fulan bin fulanah” maka dia berkata “berilah saya petunjuk, semoga Allah memberi rahmat kepadamu”. Akan tetapi kamu sekalian tidak mengerti. Seterusnya katakanlah kepadanya “ingatlah apa yang kamu pegangi sewaktu keluar dari alam dunia, yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, dan bahwa kamu rela Allah sebagai Tuhan kamu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabi mu dan Al-Qur’an sebagai imam mu. Maka sesungguhnya malaikat Munkar dan Nakir saling berpegangan tangan mereka berdua”.

Hadits Nabi sebagaimana yang diterangkan dalam kitab I’anatut Thalibin :

Disunatkan mentalqin mayit setelah sempurna penguburannya, karena ada hadits : “Ketika mayit telah ditempatkan di kuburnya dan teman-temannya sudah pergi meninggalkannya sehingga dia mendengar suara sepatu mereka, maka datanglah dua malaikat kepadanya

Leave a Comment