Secara garis besar, ada dua kelompok Wahhabi bersaing di panggung keagamaan di Indonesia:

1. Wahhabi Rasmi.
Wahhabi Rasmi ini menginduk kepada doktrin Wahhabi dan pendapat ulama resmu Kerajaan Arab Saudi yaitu Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, serta Muhammad Nashirudin al-Albani. Kajian mereka seputar teori tauhid dan ibadah menurut Wahhabi, membahas ‘syirik kubur’ dan anti-bid’ah. Mereka apolitis, tidak menyentuh wilayah ‘syirik undang-undang’ atau demokrasi. Ini bisa dimengerti karena kiblat mereka adalah Arab Saudi yang berbentuk kerajaan. Sistem monarki, dalam perspektif Wahhabi Jihadi bermasalah dan bahkan disebut sebagai representasi dari paham Murji’ah.

2. Wahhabi Ikhwani.
Wahhabi Ikhwani ini dalam gerakan menginduk kepada ideologi al-Ikhwân al-Muslimûn (IM) Mesir yang dirumuskan Sayyid Quthub. Dari rahim Wahhabi Ikhwani inilah lahir paham Wahhabi Jihadi. Fokus gerakannya bukan hanya anti-‘bid’ah’ dan ‘syirik kubur,’ tetapi ‘syirik demokrasi dan undang-undang’. Mereka menyerang demokrasi dan memurtadkan pemimpin muslim yang dianggap tidak menggunakan syariat Islam sebagai hukum positif. Jihad bagi mereka bukan hanya melawan agresor asing (kâfir harbî), tetapi juga terhadap penguasa setempat (kâfir mahallî) yang telah dianggap murtad oleh mereka karena dianggap enggan menegakkan hukum Islam, meskipun penguasa itu muslim. Seluruh doktrin Wahhabi Jihadi—dalam semua variannya—bisa dilacak bersumber dari ideologi Sayyid Quthub (IM Mesir) yang kemudian pecah menjadi banyak faksi.

Di dalam kelompok Wahhabi Rasmi dan Wahhabi Jihadi banyak turunan dan pecahan, masing-masing bahkan saling mengkafirkan. Kelompok Wahhabi Rasmi misalnya, menyebut Wahhabi Ikhwani/Jihadi sebagai reinkarnasi Khawarij. Sedangkan Wahhabi Jihadi / Ikhwani menuduh Wahhabi Rasmi sebagai reinkarnasi Muriji’ah. Namun, baik Wahhabi Rasmi maupun Wahhabi Jihadi, sama-sama bernaung di bawah fatwa-fatwa Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Ibn Taimiyah adalah mentor intelektual dari seluruh aliran Wahhabi.

Paham Wahhabi Rasmi dan Wahhabi Jihadi punya panggung untuk mentransfer paham dan keyakinannya melalui pengajian tertutup dan terbuka, bahkan diunggah ke media sosial untuk diikuti siapa saja. Terkadang mereka bukan hanya menyerang ormas lain seperti NU yang jelas berbeda, tetapi juga saling men-tahdzir di antara penganut Wahhabi sendiri.

Dari berbagai varian Wahhabi dan turunannya di atas, yang jelas semuanya telah melahirkan gerakan radikalisme dan ektrimisme dengan berbagai corak masing2 yang cukup membahayakan.

Leave a Comment