Oleh: Achmad Nur
Dewasa ini perbincangan tentang diskursus ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) semakin hangat dan mewarnai pentas percaturan intelektual khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama. Kenyataan ini terjadi karena banyak di kalangan kelompok dan paham keagamaan yang mengaku dan merepresentasikan diri dan kelompoknya sebagai pengikut Aswaja yang murni, bahkan demi legitimasi pengakuannya kelompok tersebut kerap menyalahkan bahkan mengkafirkan kelompok yang berbeda pandangan. Guna membatasi pengakuan tentang paham Aswaja, dan bagaimana epistemologinya akan disajikan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok.
An Iyadh al asy’arii, qoola,lammaa nazalat ( fasawfa ya’tiyallaahu biqowmin yuhibbuhum wayuhibbunahu) qoola rosulullah Saw, hum qowmu hadza wa asyaaro abii muusa al asy’arii
(Iyadh al Asy’ari berkata ketika turun ayat, bahwa Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya. Maka Rasulullah Saw, bersabda sambil menunjuk pada Abu Musa al Asy’ari, “mereka yang dimaksud dalam ayat tadi adalah kaum laki-laki ini, pengikut Abu Musa al Asy’ari.”
Hadits di atas menyiratkan bahwa umat Nabi Muhammad yang dicintai dan mencintai Allah adalah kelompok yang mengikuti mazhab al Asy’ari, yaitu Abu Hasan al Asy’ari. Pengikut setia Abu Hasan al Asy’ari adalah kaum Nahdlatul Ulama yang didirikan dan digagas oleh para ulama dan dipimpin oleh raisyul akbar KH Hasyim Asy’ari. Dengan demikian, dari paparan diatas tampak jelas bahwa yang berhak menyandang Ahlussunnah wal Jamaah adalah mazhab al Asy’ari. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana epistemologi mazhab Asy’ari.
Konsep Akal Sehat Imam Abu Hasan Al Asy’ari
Sebelum Abu Hasan al Asy’ari mendirikan mazhab Sunni, beliau dibesarkan di Muktazilah dan menjadi andalan dalam berdiskusi. Realitas tersebut membuktikan bahwa Abu Hasan sebagai orang yang cerdas dan memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan tajam dalam analisis. Kecerdasan ini tentunya tidak ‘bim salabim aba katabra’, namun memiliki proses yang panjang dalam menumbuhkan konstruksi berpikir. Salah satu proses tersebut adalah melalui bahan bacaan, dan diskusi dengan guru dan teman-temanya.
Oleh karena Al Asy’ari alumni Mu’tazilah, maka nalar mu’tazilah sangat mempengaruhi beliau dalam memahami persoalan teologi. Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh pemikiran Filosof Yunani terutama logika aristoteles. Dikatakan demikian, karena pada masa itu sangat marak penterjemahan pemikiran filsafat kedalam bahasa arab. Salah satu tokoh mu’tazilah yang banyak membaca buku buku filsafat Yunani khususnya logika Aristoteles adalah Abu Huzail Al Allaf yang akrab disebut manajer mazhab.
Di tangan Abu Huzail inilah Mu’tazilah lebih terorganisir dan sistematis. Sosok tokoh kritis inilah yang banyak mempengaruhi Abu Hasan Al Asy’ari. Selain itu tokoh sunni, juga dipengaruhi oleh Abu Ali Muhammad al Juba’i yang merupakan bagian tokoh Mu’tazilah.
Melalui proses pembelajaran inilah, Al Asy’ari semakin mengalami puncak kritisitas terhadap apa yang telah dipelajarinya selama ini. Sikap kritis Al Asy’ari, dapat dihat pada pertanyaan dialogis yang ditujukan untuk gurunya. Al Asy’ari bertanya, “Bagaimana menurut pendapat guru, tentang nasib atau keberadaan ketiga manusia yang terdiri dari mukmin, kafir dan anak kecil keberadaan pada hari kiamat?”
Al Juba’i menjawab, “Mukmin termasuk golongan tinggi, kafir golongan celaka, anak kecil golongan selamat.”
Asy’ari kemudian menyanggah, bagaimana jika anak kecil itu akan meningkat pada golongan tinggi, apa itu mungkin? Al Juba’i menjawab, tidak akan bisa, karena Mukmin memiliki amaliah mulia, sementara anak kecil tidak sempat beramaliah. Asy’ari kembali merespons, “Seandainya anak kecil itu berkata bahwa ini bukan kesalahan saya, karena ketika saya diberi kesempatan untuk hidup lama di dunia, maka saya akan banyak berbuat taat.”
Al Juba’i menjawab, “Allah akan berkata padanya, jika aku hidupkan kamu lebih lama maka kamu akan berbuat maksiat, karena itu aku menjagamu.” Asy’ari kemudian kembali menyanggah, “Jika orang kafir bertanya, wahai Tuhanku, Engkau mengetahui keadaanya, sebagaimana keadaanku, tapi kenapa Engkau tidak memelihara aku seperti Engkau memelihara anak kecil?”
Mendengar bantahan yang terakhir ini sang guru terdiam, tidak melanjutkan perdebatan.
Berdasar dialog di atas, tampak jelas bahwa Al Asy’ari mampu melampaui pemikiran gurunya, dan secara implisit menujukkan kegagalan Mu’tazilah tentang kebebasan berkehendak pada manusia. Ketidakpuasan inilah yang menjadi salah satu penyebab Al Asy’ari keluar dari Mu’tazilah. Dalam konteks sosiopolitik, keluarnya Al Asy’ari dari Mu’tazilah dan kembali pada amaliah ahlul hadits dengan mendirikan mazhab Ahlussunnah wal Jamaah disebabkan adanya gelombang kejenuhan masyarakat terhadap Mu’tazilah akibat perang akidah yang semakin menggurita.
Pada posisi inilah Al Asy’ari melakukan konsolidasi teologi dengan menawarkan konsep teologi yang bernada sejuk dan damai. Misalnya, tentang pendapat Mu’tazilah bahwa alam itu qodim, kemudian Asy’ari berpendapat beda bahwa Allah yang qodim dan alam hadits. Strategi kedamaiaan di tengah konflik itulah, paham Asy’ari bisa diterima oleh mayoritas umat, hinggga saat ini.
Potret di atas menunjukkan bahwa, konsep Al Asy’ari tidak murni melainkan hasil interaksi atau dialektika dengan prapengetahuan diluar dirinya seperti Mu’tazilah dan filsafat. Di sisi lain, kelompok Suni yang didirkan sebagai bentuk katalisator terhadap kegamangan masyarakat akan pencariannya terhadap konsep teologis setelah Mu’tazilah dibubabarkan oleh Dinasti Abbasiyah.
Poin penting yang bisa disegarkan kembali dan direalisasikan oleh kaum intelektual khususnya pengikut dan penerus aswaja Al Asy’ari adalah, pertama, bahwa  dalam suatu mazhab atau ideologi tersimpan endapan kompleksitas epistemologi yang mempengaruhi eksistensi kelompoknya. Kedua, mazhab Al Asy’ari memiliki strategi konsolidasi teologi yang berbasis moderat, sejuk dan damai, membuat masyarakat simpati dan empati. Ketiga, memiliki kecerdasan intelektual yang kritis dan akomodatif.
Beberapa poin inilah yang perlu menjadi perhatian utama bagi pengikut Aswaja Annahdliyah sebagai salah satu konsep akal sehat dalam berpikir dan bertindak.
Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Situbondo.

3 Comments

Leave a Comment