Radikalisme, Apa dan Mengapa

93 Dilihat
banner 336x280

Radikalisme ialah opini ataupun pandangan yang menghendaki transformasi dan perbaikan tatanan sosial dan politik dengan cara kekejaman. Secara bahasa, radikalisme bersumber dari bahasa Latin yakni kata radix yang artinya benih atau inti. Inti radikalisme ialah perilaku jiwa dalam membawa perbaikan secara frontal. Untuk memperoleh tujuan terebut, mereka kadang menerapkan kekerasan. Ideologi tersebut kadang dikaitkan dengan terorisme, sebab mereka akan melakukan apa saja untuk mengalahkan musuhnya. Selain itu, radikalisme kadang dikaitkan dengan tindakan barisan ekstrim dalam suatu agama tertentu.

Dalam berbagai kamus, radikal adalah kata sifat yang berarti aksi mencolok untuk menyerukan paham ekstrem agar diikuti oleh banyak orang. Sementara radikalisme adalah ideologi yang memercayai perubahan menyeluruh hanya bisa dilakukan dengan cara radikal, bukan dengan cara evolusioner dan damai.

banner 468x60

Sementara menurut Prof. Dr. Irfan Idris, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ada proses tersendiri seseorang mengalami perubahan dari seseorang yang radikalis, ekstrimis, hingga menjadi teroris. Radikalisme mengalami perubahan secara total dan bersifat drastis. Radikalisme menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada, ciri-cirinya adalah mereka intoleran atau tidak memiliki toleransi pada golongan yang memiliki pemahaman berbeda di luar golongan mereka, mereka juga cenderung fanatik, eksklusif dan tidak segan menggunakan cara-cara anarkis.

Gerakan radikalisme agama bagaikan musuh dalam selimut. Hal itu dikarenakan dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan umat Islam sendiri. Dalam kehidupan berbangsa kekayaan budaya dan tradisi akan tereduksi dengan hadirnya formalisasi agama. Bagi Islam sendiri, hal tersebut berarti penyempitan pemahaman agama Islam yang Lilahitaa’la.

Boleh jadi munculnya gagasan mengubah Islam kedalam negara (khilafah) disebabkan oleh semangat berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ maka munculah klaim kebenaran tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang berseberangan. Pandangan yang berbeda atau bersebrangan harus diberangus dan dianggap sesat bahkan kafir. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap pemahaman literal mereka sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi mereka dan bukan islam itu sendiri.

Karena itu alasan utama menolak radikalisme agama ialah untuk mengembalikan wajah Islam yang penuh rahmat sekaligus menyelamatkan NKRI dari keterpecah belahan. Islam yang terbuka dan toleran adalah kunci perdamaian di Indonesia.

banner 336x280
Gambar Gravatar
Peneliti Aswaja NU Center Kota Blitar

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *